Standing On the Shoulders of Giants


“Selamat datang di ITB, dek.
NIM kamu 16015139.
Semoga lulus di prodi yang diinginkan.”

Beberapa hari terakhir saya sibuk dengan persiapan segala sesuatu tentang daftar ulang, hampi-hampir blog ini sedikit terlupakan. Terimakasih untuk sahabat saya Raju Pratama yang mengingatkan saya “Kenapa tidak ada postingan baru? (Diterjemahkan dari bahasa Minang)”, saya lalu terdiam, tanpa kata, lebay. Pokoknya saya berterimakasihlah, setidaknya saya merasa postingannya masih ada ditunggu walaupun cuma satu orang. Dan tibalah saatnya kata-kata selamat datang diucapkan oleh kating yang membantu saya untuk regristrasi final. “Selamat datang di ITB, dek. NIM kamu 16015139. Semoga lulus di prodi yang diinginkan.”
Selamat datang di ITB, dek. NIM kamu 16015139.
Diterima sebagai mahasiswa baru yang katanya “Institut Terbaik Bangsa”  mungkin tedengar biasa bagi sebagian orang yang mungkin sebagian orang ini gak sengaja masuk ITB. Namun tidak dengan sebagian lain yang tidak gak sengaja (termasuk saya). Ada yang meluapkan kebahagiaannya di socmed dengan mengubah Display Pitcure-nya memakai “jamal”nya ITB, ada juga yang menambah Display Name-nya dengan NIM, atau bahkan membuat postingan baru di blognya (eh). Sepertinya tidak salah semua orang punya cara sendiri untuk melampiaskan rasa bahagianya. Yang penting halal.
Semoga lulus di prodi yang diinginkan
Berbeda dengan maba-maba di perguruan tinggi lain yang bisa langsung berharap “Semoga dapat IP 4”, “Semoga bisa lulus cepat”, atau “Semoga dapat jodoh cepat”, ucapan selamat datang kami harus diakhiri dengan “Semoga lulus di prodi yang diinginkan”. Yah, masih ada ‘urusan’ yang perlu diperjuangkan. Dan ‘urusan’ itu akan semakin besar jika menginginkan prodi favorit di masing-masing fakultas. Dan……….. matematika adalah prodi paling favorit di FMIPA (berdasarkan jumlah peminat). Cemungud..
“Penggila kopi pasti ingin menikmati kopi terbaik di kedai kopi terbaik”, walaupun harus bersaing dengan para pembuat kopi terbaik atau ahli-ahli yang tahu persis seluk beluk kopi. Untuk menjadi Cules (fans Barca) juga tidak perlu harus seorang pesepakbola profesional, bahkan banyak yang tidak bisa bermain sepakbola  apalagi ala tiki-taka. Bro, menjadi ‘expert’ bukan syarat untuk mencintai, tapi menjadi salah satu respon setelah mencintai.
Bro, menjadi ‘expert’ bukan syarat untuk mencintai, tapi menjadi salah satu respon setelah mencintai.
Hal itu yang sempat terpikirkan ketika gathering akbar pertama FMIPA ITB 2015 yang acaranya luarbiasa seru, salut buat panitia yang sudah bekerjakeras (bagi yang ingin menyaksikan bagaimana keseruannya, bisa tonton video di bawah) Selain itu saya juga bertemu dengan orang-orang yang luarbiasa di bidangnya masing-masing. Terkhusus untuk bidang akademik, saya bertemu dengan orang-orang yang sudah olimpiade kesana kemari, pelatnas, dan juara dimana-mana. Dengan pengalaman yang seperti itu cukup untuk menyebut mereka sebagai “raksasa” dan tentunya saya terlihat seperti “aku mah apa atuh” jauh dari kata “raksasa”.
Aku mah apa atuh” bukanlah alasan yang baik untuk menyesal, atau bahkan tidak ada alasanuntuk menyesal berada di antara raksasa-raksasa ini. Bisa dikatakan tidak tempat yang tanpa raksasa. Lalu apakah kita harus lari dari raksasa? Atau melawan raksasa-raksasa itu?
Sir Isaac Newton punya solusi yang lebih elegan. Mungkin bagi orang sekaliber Newton tidak pantas untuk disebut “aku mah apa atuh”, kita juga sepakat bahwa dialah salah satu dari raksasa-raksasa Fisika dan Matematika yang sebenarnya . Bahkan di buku The 100 karya Michael H. Heart -yang menurut banyak orang cukup objektif dalam mengurutkan orang-orang paling berpengaruh di dunia-, Sir Isaac Newton menempati urutan kedua setelah Nabi Muhammad S.A.W. Hebatnya, Newton tidak menganggap dirinya termasuk dari raksasa-raksasa terdahulu, tetapi Newton lebih memilih cara lain untuk mengungkapkan tips bagaimana ia dapat ‘melihat lebih jauh’. 
sumber: http://www.biography.com

  Di dalam surat untuk Robert Hooke  pada tahun 1676, Newton menulis: “if I have seen further,it is by standing on the shoulders of giants”. Begitulah Newton, ia sadar bahwa karya-karyanya tidak dapat terlepas dari buah pemikiran ilmuwan-ilmuwan lain yang semasanya ataupun ilmuwan-ilmuwan yang terdahulu seperti Keppler, Copernicus, dan Galileo. Newton menyebut mereka dan karya-karya mereka sebagai “raksasa”, padahal ia sendiri lebih “raksasa”, dan dengan berdiri di atas bahu mereka maka Newton bisa melihat lebih jauh, menemukan dan merumuskan hal-hal baru, menghasilkan banyak karya penting, dan namanya akan terus dikenang. Entah untuk alasan apa, tetapi sekilas Newton mengisyaratkan bagaimana ilmuwan sejati, merendah untuk meroket.

Status kita yang sebagai “aku mah apa atuh”, tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyesal, tetapi menjadi alasan untuk terus belajar kepada mereka agar semoga dapat bersama-sama melihat lebih jauh lagi. Pertanyaannya adalah apakah raksasa ini mempersilahkan kita berdiri di pundaknya? Tidak tahu. Kita lihat saja nanti.  
Tetapi lebih dari semua itu, saya merasa sangat bahagia Allah memberi kesempatan saya bisa berada di antara calon ilmuwan-ilmuwan masadepan. Manusia-manusia yang, insyaAllah, akan berada di belakang layar ataupun di depan layar perkembangan dunia. Manusia-manusia yang siap berbakti untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Untuk manusia-manusia yang ilmunya kelak menjadi dasar penopang bagi ilmu-ilmu lainnya, Viva La Scientia!!

2 thoughts on “Standing On the Shoulders of Giants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s