The Power of Your Click

Selamat datang di Kota “Punten”! Semoga lidah ini tidak kaku menyebut “punten” saat berjalan di depan orang lalu dibalas “mangga”. Sedangkan di tempat lain kata “maaf” disebut berlebihan dan kata “afwan” disebut tidak cinta tanah air. Sungguh, kami cinta tanah air.

Dalam perjalanan menuju Kota Punten, saya singgah di Ibukota. Menjadi pikiran apakah saya secara dramatis akan menemui jodoh disini. Maaf, kita ulangi.

Dalam perjalan menuju Kota Punten, saya singgah di Ibukota. Menjadi pikiran apakah saya secara dramatis akan menemui kejadian yang sedang ramai dibincangkan di sana. Seperti kata Bang Napi bahwa kejahatan bukan karena ada niat pelaku tetapi juga karena ada kesempatan “Waspadalah! Waspadalah!”. Bukan berharap pastinya, tetapi cuma sadar kalau saya mungkin sekali bertemu dengan hal yang mengerikan itu. Mengerikan seharusnya, tetapi di Indonesia malah dijadikan lelucon. Atau mungkin kita memang terbiasa menganggap semua lelucon?

Tentu saja saya tidak akan membahas siapa pelakunya, apa motofnya, kenapa di Sarinah, dan lain sebagainya, biarlah Pak Polisi yang terhormat (dan yang sedang hitz juga) mengurusnya. Sadarlah, data dan pengetahuan kita yang sangat sedikit ini jangan terlalu banyak berspekulasi. Walaupun begitu masih banyak juga teman-teman yang hebat ikut berdebat mengenai hal ini. Tak heran ratusan spekulasi muncul, dari yang (masih saja) menganggap itu lelucon sampai yang menganggap serius.

Secara garis besar, ada dua ledakan kemaren. Pertama jelas adalah ledakan di Sarinah beberapa kali tersebut yang disusul dengan baku tembak serta datangnya kerumunan penonton (eh). Cukup seru. Cukup mendebarkan. Pantas saja orang-orang disana enggan beranjak dan melewatkan adegan demi adegan. Alih-alih bersembunyi, penonton malah asyik berdiri di pinggiran tanpa tameng dan baju anti-peluru, jauh berbeda dengan Pak Polisi yang bertamengkan mobil. Adalagi penjual sate dan penjual-penjual lainnya yang tetap melaksanakan tugasnya walaupun suasana cukup mencekam. Mencekam? Mungkin saya yang terlalu lebay menyebutkan kata “mencekam” diatas, padahal mungkin faktanya adem ayem saja. Aaah kita tidak tahu.

Nah, Semua komponen diatas membuat suatu ledakan baru di berbagai media lainnya. Ini baru benar-benar meledak. Saya termasuk yang yang tidak tahu melalui TV, tetapi dari hashtag. Iya, hashtag. Dari hashtag baru saya mulai mencari ke berbagai media. Selain broadcast mengenai hashtag tersebut, ternyata kali ini ada kontra-nya. Maksudnya ada sebagian yang menganggap bahwa ikut-ikutan hashtag malah memberi banyak dampak negatif dari segi perekonomian. Setelah kontra itu, adalagi muncul kontranya kontra hashtag. Jelas tujuannya adalah membantah tuduhan dampak negatif tersebut. Efeknya luarbiasa bukan?

Saya sendiri bagaimanapun bukan bagian dari yang buat hashtag maupun yang kontra hashtag. Terlalu banyak kejadian dan tempat yang seharusnya kita buat #PrayFor……... Saya merasa tidak cukup adil ketika ikut-ikutan hashtag padahal jauh disana ada negara yang ledakan bom layaknya pesta tahun baru, tapi dengan tahun barunya bisa tiap minggu bahkan tiap hari. Bagaimana juga dengan negara yang tidak ada yang ingin meneror karena mereka telah terteror dengan kurang makan, air, pendidikan, dan sebagainya. Belum lagi pribadi-pribadi yang banyak sekali perlu dikasihani, belum dapt pekerjaan, belum bisa bayar hutang, belum dapat jodoh, gagal jadi sesuatu, nilai jelek, aaaah terlalu banyak. Pada tanggal terjadi bom itu sendiri sangat banyak kejadian yang bisa dijadikan hashtag (salah satunya adalah meninggalnya Alan Rickman). Masih banyak lagi kan? Ya tidak perlu disebutin.

Bayangkan jika tiap kejadian, tiap becana, tiap teror yang terjadi lalu saya buat status. Hmm.. Itu bukan tipe saya banyak buat status. Apalagi ganti foto profil, sangat jarang. Ini bukan masalah peduli atau tidak peduli, bukan masalah support atau tidak support, juga bukan masalah mendukung siapa atau siapa. Saya hanya khawatir berlaku tidak adil, khawatir jika suatu kejadian yng kita “share” benar-benar semacam lelucon, khawatir jika saya ikut-ikutan “share” malah menambah pelik masalah. Bukan tugas saya menganalisa kejadian, bukan juga tugas saya menghebohkan suatu kejadian. Ini bukan siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi mungkin sejenak sebelum ‘share’ kita bertanya “Haruskah?”.

Terakhir, saya ingin mengutip status saya di salah satu media sosial

Banyak sekali hal-hal yang belum dipikirkan terjadi setelah kita menekan tombol share atau like (yang otomatis juga menjadi tombol share) terhadap suatu post. Mungkin harusnya ada pertanyaan di dialog box: “Apakah anda yakin untuk membagikan ini (dan tidak menimbulkan masalah)?”



Selamat datang di Kota “Punten”! Semoga lidah ini tidak kaku menyebut “punten” saat ada yang tersinggung dengan postingan ini, ada baiknya memberi kritikan dan saya ucapkan “mangga”. Sedangkan di tempat lain kata “maaf” disebut berlebihan dan kata “afwan” disebut tidak cinta tanah air. Sungguh, kami cinta tanah air.

Iqbal Rahmadhan
yang baru sampai di Kota Punten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s