KUPAS KOSMOS #1: Hikayat Heike

(Postingan pertama yang mengupas buku Kosmos karya Carl Sagan)

Pernahkah merasa eksklusif? Ketika seseorang menganggap hanya dirinyalah yang diberikan ucapan selamat pagi setelah sesaat membuka mata dan diberikan doa indah ketika hendak berpetualang di alam mimpi (tak peduli akhirnya bermimpi atau tidak) agar sang mimpi tak kalah indah dari doa yang terucap. Tentunya. Atau yang paling sederhana jika kita menjadi suatu makanan yang dianggap berbeda dengan yang lainnya karena pada kombinasinya terdapat lebihan telor atau keju, sedangkan yang lain tidak diberikan lebihan tersebut bahkan tidak dimasukkan di antara bahan-bahan lainnya, terlihat lebih rendah stratanya.
Status eksklusif yang dinobatkan secara “sepihak” ini beberapa kali menghambat kita berangkat dari bumi yang kecil ini menuju sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kokoh, dan jauh lebih luas sehingga kemungkinan bahwa kita, manusia, benar-benar The Only One-nya Kosmos dapat berkurang secara perlahan-lahan. Secara perlahan-lahan kita menyadari bahwa ucapan selamat pagi yang didengungkan kepada kita merupakan ucapan yang kesekian kalinya didengungkan kepada “orang-orang” selain kita, kitalah orang yang mendapatkan urutan kesekian. Sedangkan doa indah di malam hari bisa jadi yang pertama kali dipanjatkan, hanya saja sebagai uji coba untuk mereka yang lebih pantas mendapatkan yang lebih indah. Semua orang, atau setidaknya sebagian, akan memaklumkan bahwa ini hal yang menyakitkan. Oleh karena itu pada beberapa abad sebelum ini, entitas manusia lebih memilih alternatif lain; meninggalkan Kosmos dan meninggalkan pikiran yang sedang berkelana di Kosmos (padahal saat itu manusia telah menyadari penuh posisinya).
Buku yang secara simultan menjadi genre sastra dan genre sains dalam waktu bersamaan ketika membacanya ini memberikan pemahaman bagaimana menjadi warga Kosmos yang baik. Bukan hanya mengembalikan kesadaran bahwa manusia bisa jadi bukanlah entitas yang satu-satunya di Alam Semesta yang selalu mengembang (sapai saat ini), tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri kita sebagai bagian dari sesuatu yang besar yang diberikan tugas untuk memahami diri sendiri dan memahami bagian dirinya yang lain, yang lebih besar. Dua hal yang bertentangan, bukan?
Awalnya saya mencoba mengira-ngira isi dari buku ini akan langsung terbang ke galaksi nun jauh disana, atau langsung membahas bagaimana Big Bang kemungkinan terjadi, atau minimal membahas seberapa tua Alam Semeta ini. Pertanyaan-pertanyaan dasar di atas akan langsung dipercikkan di bab pertama, sebuah pembukaan yang elegan untuk pembahasan yang luas, menuju luasnya Kosmos. Namun tak beberapa saat kita langsung ditarik kembali menuju permukaan. Seperti sebuah trailer yang menampakkan bagaimana luas dan gagahnya galaksi terdiri dari miliaran bintang, kemudian trailer singkat tersebut berakhir dan menyisakan kita yang masih duduk di dalam bandara (kebetulan saya membuka buku ini saat pulang libur semester) yang seharusnya memahami hal-hal “sepele” yang jaraknya hanya beberapa meter atau kilometer di hadapan kita. Jangan dulu membahas sesuatu yang berjarak dua juta tahun cahaya dari tempat duduk; seperti galaksi M31.
Galaksi M31 (Andromeda)
Sumber: https://apod.nasa.gov

  Bumi kecil kita begitu unik, paling tidak sampai saat ini, karena disanalah ditemukannya kehidupan selain dari “kehidupan” ala bintang-bintang. Sebagian dari miliaran planet tidak memiliki kehidupan, walaupun bahan dasar dari kehidupan yang ada di bumi juga ditemukan di berbagai tempat di Alam Semesta ini, tetapi hanya dengan bebagai “kebetulan” beruntun seperti di bumi lah kita akan merasakan suasana seperti di planet biru ini. Satu bab yang paling berkesan saat di bangku SMA adalah bab tentang Teori Evolusi. Materi pelajaran SMA tak banyak yang benar-benar membuat kita bertanya-tanya (jika tanpa inisiatif guru atau siswa), dan terutama Biologi tak lebih seperti serangkaian kata-kata ilmiah yang tak mewajibkan kita untuk berpikir namun apabila kita dapat menghapalnya dengan baik, maka kita telah dianggap paham akan ilmu ini. Namun sayangnya untuk materi evolusi ini, saya beserta teman-teman di kelas langsung diberikan pemahaman bahwa kita boleh saja tidak meyakini cabang ilmu ini namun saat ini cobalah untuk menerimanya, sebuah pembukaan yang begitu pesimis.
Sampul buku The Origin of Species

Sumber: http://www.wikiwand.com/

 

   Darwin, evolusi, dan The Origin of Species menjadi sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan, kalimat “untuk saat ini terima saja” seolah selalu dilontarkan bahkan di buku teks pelajaran. Wajar saja penolakan akan usulan ini mudah terjadi, bahkan untuk seseorang yang tidak memiiki argumen apapun sebelumnya yang dapat membantah teori ini. Namun untuk membahas Alam Semesta kita tidak dapat melewatkan bagian penting ini, bagian yang menjadikan debu-debu bintang dapat memahami bagian besar dirinya. Di bagian inilah menjadi titik krusial apakah zat-zat bintang yang berserakan dapat merenungkan asal-usulnya yang tak dapat dilakukan oleh bintang-bintang sekalipun.  Dan suatu saat terjadilah manusia. Namun bagaimana sebelum kejadian itu? Carl Sagan di bab Satu Suara dalam Fuga Kosmik menjelaskan dengan begitu indah hikayat kehidupan galaksi beserta kemungkinan-kemungkinannya.

Ada baiknya Satu Suara dalam Fuga Kosmik menjadi satu bab khusus pada buku teks SMA sebelum Teori Evolusi Darwin. Kisah armada perang berisikan samurai-samurai Heike di Jepang yang diluluh-lantakan oleh klan Genji dan nelayan yang mempercayai bahwa para samurai tersebut masih bersemayam di lautan dalam bentuk kepiting menjadi kisah pembuka sebelum bertemu dengan DNA, mutasi, kromosom, dan lainnya. Dampak dari Hikayat Heike yang terjadi pada nelayan memberikan gambaran kecil bagaimana proses evolusi berlangsung, bahkan oleh ketidaksadaran manusia yang mendorong proses evolusi tersebut. Dahulu, apabila nelayan menemukan kepiting yang memiliki pola unik seperti wajah samurai, kepiting ini tidak akan dimakan dan akan dikembalikan ke lautan karena mengingatkan nelayan akan kisah menyedihkan pada perang Danno-ura.
Kepiting Heike

Selama ratusan tahun kepiting yang dimakan di daerah sana hanyalah kepiting dengan pola-pola dan tanda selain pola samurai, sedangkan yang memiliki tanda unik ini dibiarkan hidup. Akibatnya misalkan saya adalah seekor kepiting dengan pola samurai, saya dapat menjamin keberlangsungan hidup saya sehingga peluang saya memiliki keturunan dengan pola yang mirip (karena pewarisan sifat) juga lebih besar dan juga tentunya dapat menghasilkan keturunan dengan spesifikasi tersebut lebih banyak. Untuk generasi pertama mungkin tidak akan begitu kelihatan dominasi saya, kerabat dekat, beserta keturunan saya. Mungkin polanya jika dilihat secara rata-rata hanya menggambarkan bentuk tak jelas yang seolah-olah hampir menuju bentuk wajah. Namun karena proses diskualifikasi yang dilakukan beruntun dari generasi ke generasi, menyebabkan bentuk kepiting yang benar-benar dominan hanya tinggal bentuk manusia, bahkan jika dilanjutkan sampai generasi berikutnya nelayan akan lupa dengan rasa kepiting karena semuanya mirip samurai. Proses ini disebut sebagai seleksi alam. Pada kasus kepiting diatas, terlihat bahwa kepiting tidak memiliki keinginan untuk diseleksi, bahkan sang penyeleksi (nelayan) juga tidak menyangka bahwa mereka sedang mendorong suatu proses yang berdampak signifikan pada alam. Siapa yang akan menyangka Hikayat Heike akan menjadi pemicu proses seleksi alam, luar biasa.

Berbicara Alam Semesta tidak mungkin melewatkan bahasan tentang bagaimana sang juru bicara tercipta. Pada proses seleksi kepiting Heike bukan suatu yang sulit untuk diterima kenyataannya, begitu juga tentang bagaimana alam semesta terbentuk, bagaimana awal kehidupan, dan pertnyaan-pertanyaan bagaimana lainnya. Paling tidak pertanyaan tersebut lebih mudah diterima daripada tentang bagaimana manusia tercipta dan akhirnya manusia ada. Masih terdapat banyak sekali alternatif, dari berbagai pendekatan. Argumen saya dalam hal ini sebagai seorang Muslim yang telah dengan dengan jelas tercantum di dalam agama tentang kejadian manusia tak mungkin dapat dipungkiri. Akan tetapi apakah dengan mengecualikan manusia pada proses evolusi (atau kembali meng-eksklusif-kan proses evolusi manusia dibanding makhluk lain) serta merta meruntuhkan teori evolusi yang dalam hal ini mengambil pendekatan ilmiah dan tentunya proses berpikir secara dramatis dalam berpuluh tahun? Dan juga sebaliknya. Apakah dengan menerima teori evolusi serta merta (juga) mengurangi pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan?



Postingan ini akan bersambung dengan pembahasan Kosmos (Carl Sagan) lebih lanjut. Nantikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s