Kupas ANAK SEMUA BANGSA

“Annelies Mellema,” ia mengulurkan tangan padaku, kemudian pada Suurhof.Suara yang keluar dari bibirnya begitu mengesani, tak mungkin dapat kulupakan seumur hidup.– Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Bumi Manusia’ 

Buku bersampul kehijau-hijauan itu akhirnya menjadi perhatianku setelah mendekam lama di rak buku kamar kost. Buku itu sebenarnya telah kubeli kira-kira dua tahun yang lalu sebagai syarat untuk bergabung dengan suatu unit kegiatan mahasiswa di ITB (yang pada akhirnya tidak jadi kulanjutkan). Hampir saja terlupakan, namun karena tak ada bahan lain yang bisa kubaca dan tersedia di kamar maka Bumi Manusia-lah yang menjadi santapan. Kira-kira tak sampai sebulan roman ini khatam plus tiap paragraf yang menarik selalu ku jadikan bahan untuk update di linimasa LINE.
Setelah kubaca-baca lagi ternyata paragraf yang menarik dan sempat menjadi penhias linimasa semuanya mengenai Annelies, tokoh fiktif dalam roman Tetralogi Buru, yang mengalami masa-masa indah dan sulit bersama Minke dan Nyai Ontosoroh. Tak bisa dikatakan sederhana jalan cerita dari roman pertama ini, dari perkenalan sang tokoh utama dan tokoh lainnya, lalu bagaimana bertemunya tokoh-tokoh tersebut, sampai muncul konflik yang silih berganti. Semuanya tersusun rapih, indah.
Namun sayangnya setelah beberapa saat menutup buku itu dengan kalimat yang melegenda dari Nyai Ontosoroh; “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”, aku merasa kesulitan mereke-reka kembali apa saja yang telah kudapatkan dari novel ini. Aku bukanlah pecinta novel, apalagi roman, karena menurutku sangat sedikit manfaat yang bisa diambil selain permainan perasaan akibat lihainya tangan sang penulis. Jadi, sekali lagi dicoba untuk menanyakan apa saja yang kudapatkan dari Bumi Manusia. Ternyata hanya Annelies, Annelies, dan Annelies saja yang tersisa. Bahkan tokoh fiktif ini jauh lebih berkesan dari tokoh lain yang benar-benar terinsipirasi dari sejarah nyata.

Sampul depan terbitan Lentera Dipantara  

Memang benar ada nilai tentang kemanusiaan, dendam, harga diri, adil, dan lainnya, hanya saja semua seperti dapat diabaikan atau setidaknya digantikan dengan satu kata; Annelies. Mungkin memang begitu cara penulis menyampaikan idenya, melalui segala pergulatan tokoh Minke terhadap Annelies. Dengan cerita yang sengaja digantungkan membuat kita mau tak mau harus lanjut ke roman kedua; Anak Semua Bangsa. Sekali lagi ia memulai dengan magnet yang luarbiasa, yakni kisah tentang Annelies selama pelayaran dan di Nederland yang dituturkan oleh Robert Jan Dapperste alias Panji Darman. Sampai pada telegramnya tentang Annelies Mellema yang telah meninggal.
Awalnya kukira tak mungkin buku ini menghilangkan sinarnya, Annelies, yang menjadi penggerak orang-orang untuk terus menelusuri kisah demi kisah. Aku sempat pesimis untuk melanjutkan bacaan tentang Minke ini. Karena memang setelah itu cerita berubah menjadi lebih politis dan lebih serius. Yang menjadi titik tolak untuk lari dari masalah Annelies adalah ketika Jean Marais menghendaki Minke (yang telah terkenal karena tulisan-tulisannya dalam Belanda) untuk mulai menulis dalam Melayu. Kalau tidak salah inilah kali pertama Minke bentrok dengan Jean Marais yang menganggapnya tidak kenal dengan bangsa sendiri. Saat inilah aku mulai tersadar bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan yang jauh lebih besar dari Annelies; nasionalisme.
Setelah empat per lima dari buku barulah kata itu disebut dari mulut Ter Haar. Walau tidak ada definisi secara langsung dari penulis di dalam buku, kita dapat memahaminya dari berbagai kisah yang diangkat; protes Jean Marais, pemberontakan Pribumi Filipina, kebangkitan Jepang, dan tentunya tragedi yang menimpa Trunodongso serta pertarungan modal. Kalau saya tidak salah tafsir, semuanya berkaitan. Minke sempat bingung ketika disuguhkan tentang bagaimana kalau Pribumi sendiri yang mengurusi negeri ini, bagaimana mungkin raja-raja yang haus harta dan tahta bisa lebih layak mengatur semua ini dibandingkan Belanda.
Sampai disini kita akan terbawa lagi ingatan tentang surat-surat dari kakak-beradik de la Croix yang menaruh begitu banyak harapan pada Minke agar tidak menjadi seperti bangsanya sendiri, agar ia menjadi pahlawan dikemudian hari yang mengangkat martabat bangsanya yang telah direndah-rendahkan. Kurang lebih semua tokoh yang mendukung Minke (atau setidaknya sampai saat ini kelihatan mendukung) memiliki satu visi bahwa dialah yang terpilih karena memilii ilmunya Eropa, berbeda dengan kebanyakan dari bangsanya. Namun disisi lain ia tetaplah bagian dari bangsanya yang punya misi khusus; mengangkat derajat bagsanya sedikit demi sedikit. Dari semangat Pribumi yang ditularkan Bumi Manusia sekarang digunakan istilah baruntuk lebih mudah pengucapannya; nasionalisme.
Tentu saja saya tidak dapat menjelaskan nasionalisme dengan lebih indah, namun konsep ini begitu menjanjikan untuk beberapa kalangan. Kalangan terpelajar. Ada satu nilai lagi yang sangat kental dirasakan dalam konflik demi konflik Anak Semua Bangsa, yang benar-benar akan dirasakan jika kita menyelam ke konflik tersebut dengan sudut pandang Minke. Setelah dihujani berbagai kritik dari Kommer dan Jean beserta gaya dan sikapnya masing-masing, tentu saja Minke marah, ada arogansi disini, arogansi dari orang yang lebih terpelajar. Keinginan mereka berdua agar Minke menulis Melayu terus menerus mengusik dirinya, benar-benar terhinakan karena dianggap tidak kenal bangsa sendiri.
Tapi bermarah-marahnya Minke akhirnya tetap ia kembali ke sahabatnya tersebut, menyadari tak banyak orang yang benar-benar peduli padanya. Sesi yang sangat menarik ketika Minke mencurahkan perasaannya tentang Nijman yang menolak tulisan yang dianggapnya paling sempurna tentang Trunodongso. Puncaknya tentu saja di akhir roman ketka Jean Marais dan Kommer saling bersahut kata melawan Ir. Maurits Melleme mengikuti permintaan Nyai; “..Memang kita tak punya kekuatan melawan Hukum dan dia, tapi kita masih punya mulut untuk bicara. Dengan mulut itu saja kita akan hadapi dia. Kita masih punya sahabat “.
Ya, walupun masih ada kemungkinan dari fakta bahwa Jean dan Kommer sama-sama tertarik pada Nyai, kita tetap dapat menganggap sikap dari kedua sahabat ini mengagumkan. Tak terkecuali tokoh-tokoh lain seperti Darsam, Panji Darman, keluarga de la Croix, dan lainnya yang telah memperkuat rasa kesetiaan di roman ini.
Ternyata dengan matinya Annelies adalah cuaca cerah untuk menjelajahi benua-benua baru tersebut; kritis, Angkatan Muda Cina, kebangkitan Jepang, pemberontakan Filipina, pertarungan modal, keluh-kesah kaum tani Tulangan, nasionalisme, dan tentunya keberadaan dari sahabat-sahabat. Saatnya di zaman modern ini kita meneguk air susu dari tidak hanya Eropa, tapi juga dari Pribumi sendiri, Jepang, Tiongkok, Amerika, Prancis, FIlipina, sehingga menjadi Anak Semua Bangsa yang harus berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
*** 

“Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan…”– Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Anak Semua Bangsa’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s