Unta ke-18 untuk Indonesia

Indonesia baru saja merayakan kemerdekaannya yang ke-72. Suatu bangsa yang sudah cukup tua memang. Cukup tua dengan berbagai problematika yang sempat atau sedang dihadapi. Pada tahun ini, kurang dari sebulan setelah perayaan kemerdekaan, bangsa Indonesia bersua dengan hari besar lainnya, yakni Hari Raya Idul Adha. Hari besar bagi umat muslim ini tidak jarang memberi dampak yang signifikan bagi bangsa Indonesia, pada ekonominya dan pada hal-hal lainnya. Oleh karena itu saya rasa tidak salah menyebut hari raya ini juga merupakan hari besar bagi bangsa Indonesia.

Idul Adha identik dengan pengorbanan. Mungkin hikmah dari dekatnya peringatan kemerdekaan dan Idul Adha adalah saat ini anak-anak Indonesia perlu merefleksikan diri tentang pengorbanan yang telah dilakukannya. Banyak problematika negeri yang memerlukan pengorbanan. Pada banyak hal, masalah ini berbentuk konflik antar dua pihak. Untuk menyelesaikan tiap konflik, terkadang dibutuhkan pihak ketiga, pihak ketiga yang berkorban untuk kedamaian.
sumber: media.licdn.com
Ada satu cerita pendek anak-anak menarik yang mengisahkan seorang bapak tua yang kaya dan memiliki tiga orang anak. Saat ia meninggal, ia berwasiat untuk membagi seluruh hartanya sesuai dengan aturan berikut; anak pertama mendapatkan setengah bagian dari warisan, anak kedua mendapatkan sepertiga dari warisan, dan anak terakhir mendapatkan sepersembilan dari warisan.
Mengenai pembagian, ketiga anak tidak merasa untuk berkompromi karena itu wasiat dari ayahnya dan pastilah adil. Namun yang menjadi masalah adalah ayahnya hanya memiliki 17 unta untuk diwariskan. Karena 17 adalah bilangan prima, otomatis 17 unta tidak dapat dibagi menjadi dua, menjadi tiga, dan menjadi sembilan. Berhari-hari ketiga anak tersebut belum menemukan jawaban yang dapat diterima oleh semua.
Setelah beberapa hari, mereka bertemu dengan seorang nenek tua yang dikenal bijak oleh warga desa. Nenek ini meminta mereka bertiga menemuinya serta membawa 17 unta tersebut. Selanjutnya setelah memahami permasalahan, ia kemudian menghadiahkan 1 unta miliknya sehingga total terdapat 18 unta yang akan dibagikan sesuai aturan yang diberikan ayahnya.
Karena 18 bukanlah angka prima, maka dengan mudah anak tertua membagikan sesuai aturan ayahnya. Anak tertua mendapatkan setengah dari 18 yakni 9 unta, anak kedua mendapatkan sepertiga yakni 6 unta, dan anak terakhir mendapatkan sepersembilan yakni 2 unta. Total jumlah yang telah dibagikan ternyata 17, menyisakan satu unta. Kemudian anak tertua dengan penuh kebahagiaan menyerahkan kembali satu unta tersebut ke nenek yang telah mengorbankan 1 unta miliknya demi solusi permasalahan mereka.
Cerita tersebut sangat sederhana, sangat-sangat sederhana. Tidak sekompleks masalah besar UKT 
yang harus dibayar oleh mahasiswa semester 9 di ITB. Tidak juga semeraut problematika negeri yang kita cintai ini. Namun menjadi nenek tua dengan memberikan unta ke-18 adalah entitas yang ditunggu-tunggu oleh kampus dan oleh bangsa ini.
Mendeklarasikan diri menjadi salah satu pihak yang sedang konflik jauh lebih mudah untuk kita lakukan. Tinggal pertimbangkan keunggulan pihak kita lalu serang dengan kelemahan pihak lawan. Pembelajaran ini mungkin bisa kita dapatkan pada buku legendaris Art of War­-nya Sun Tzu. Hanya tentang kalah dan menang. Tapi menjadi pihak ketiga butuh pengorbanan lebih, bisa jadi kita malah membuat diri kita adalah musuh bagi kedua pihak, atau sebaliknya menjadi pahlawan di tengah konflik.
sumber: beyondintractability.org
Dalam menjadi pihak ketiga, kita harus tahu kondisi yang sedang berlangsung dan kita dapat mengambil peran apa dikondisi terebut. Kesadaran akan peran ini akan mengurangi usaha yang sia-sia dan tidak berdampak banyak terhadap suatu konflik. Untuk itu William Uryco-founder­ dari Harvard’s Program on Negotiation dan mediator dalam berbagai perang etnis, menklasikfikasikan 10 peran yang dapat kita ambil sebagai “pihak ketiga” dalam suatu konflik (Ury W. , 2000). 10 peran ini dibagi kedalam 3 strategi besar sesuai dengan kondisi dari konflik tersebut.
  •  Prevent atau mencegah (terdiri dari provider, teacher, dan bridge-builder) 
  • Resolve atau menyelesaikan (terdiri dari mediator, arbiter, equalizer, dan healer)
  • Contain atau menahan (terdiri dari witness, referee, dan peacekeeper)
Berikut akan dijelaskan secara ringkas 10 peran tersebut:
1.      The Provider. Biasanya konflik disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan di salah satu pihak. Oleh karena itu providerhadir untuk menyelesaikan masalah dengan memberikan kebutuhan tersebut, baik itu berupa materi seperti makanan, ataupun non-materi seperti rasa aman, pengetahuan, dan cinta.
2.      The Teacher. Konflik juga bisa hadir karena kedua pihak tidak mengetahui cara lain selain dari perseteruan. Peran ini haruslah mengajari kedua pihak bahwa ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan.
3.      The Bridge-builder. Memiliki suatu hubungan yang baik antar pihak dapat mencegah terjadinya konflik. Dibutuhkan suatu penghubung untuk menjalin hubungan yang baik tersebut. Penghubung ini dapat terjadi secara natural atau dapat dibangun oleh seseorang.

 

Tiga peran diatas diperlukan dalam proses pencegahan konflik, apabila konflik telah terjadi selanjutnya diperlukan peran ke-4 sampai peran ke-7 untuk menyelesaikan konflik tersebut.
4.      The Mediator. Saat terjadinya konflik, perlu dibicarakan dengan duduk bersama. Mediator adalah orang yang mengambil peran agar kedua pihak setuju untuk duduk bersama dan memfasilitasinya. Selanjutnya mediator juga membantu mencari solusi atas permasalahan.
5.      The Arbiter. Apabila mediasi gagal karena suatu sebab yang tak terelakkan. Maka perlu seseorang yang dapat memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, bukan lagi mencari solusi bersama. Contoh sederhananya adalah hakim dalam sidang, atau guru yang memutuskan perselisihan dua siswa yang bertengkar.
6.      The Equalizer. Seringkali juga konflik hadir diantara dua pihak yang jomplang, salah satu pihak memiliki kekuatan dan kekuasaan yang jauh lebih besar daripada pihak kedua. Jika kita berharap hanya pada peran Mediator dan Arbiter saja, maka pihak yang kuatlah cenderung untuk menang tanpa memberikan kesempatan pada pihak lemah. Equalizer harus menggunakan pengaruhnya agar penyelesain konflik berjalan seimbang.
7.      The Healer.Konflik biasanya tidak benar-benar selesai setelah solusi didapatkan. Masih ada luka-luka yang tersisa pada salah satu pihak atau kedua pihak. Apabila luka ini tidak segera disembuhkan akan membusuk dan menjadi konflik di kemudian hari. The Healer adalah peran yang bertugas untuk menutupi luka tersebut, menjadikan kedua pihak dalam kondisi damai seutuhnya melalui treatment tertentu.
Strategi ketiga pada peran ke-8 sampai peran ke-10 yang bertugas untuk menahan suatu konflik agar tidak menghasilkan kerugian yang lebih besar.
8.      The Witness. Apabila suatu konflik dibiarkan saja, maka dapat terjadi eskalasi hingga terjadi kekerasan. Peran sebagai The Witness adalah mengamati apabila terdeteksi ancaman dan mencoba menyelesaikan atau melaporkan agar tidak terjadi eskalasi konflik.
9.      The Referee. Terdapat juga beberapa perselisihan yang dapat memberi manfaat sampai suatu batas tertentu. The Referee adalah peran yang menjaga agar kedua belah pihak tetap berada dibawah batas tersebut agar tidak terjadi kerugian yang besar.
10.  The Peacekeeper. Saat batas-batas tersebut terlampaui terkadang kita perlu tindakan tegas yang dapat menghentik konflik seketika. Seperti seorang ibu yang memisahkan dua anaknya yang sedang berkelahi. Sebisa mungkin The Peacekeeper tidak melakukan tindakan yang menyebabkan kerugian besar walaupun tindakan yang diperlukan harus tegas.
Sepuluh peran ini idealnya harus ada ditengah masyarakat kita. Menentukan peran apa yang sebaiknya kita ambil haruslah diikuti dengan kesadar kondisi konflik, apakah masih dalam tahap pencegahan atau konfik telah terjadi dan perlu untuk diselesaikan. Apakah jalur mediasi masih bisa diambil sebelum melakukan jalur hukum. Selain itu, kita juga perlu memahami kekuatan dan pengaruh yang kita miliki. Misalnya lembaga The Peacekeepertidak bisa diperankan oleh lembaga yang lebih lemah daripada pihak yang berkonflik. Begitu juga dengan The Teacher haruslah yang mengerti dan memiliki pemahaman lebih terhadap pencarian solusi serta dapat memberikan pengajaran kepada pihak lainnya.
Seperti yang telah saya sampaian di awal, 10 peran ini sama-sama memiliki potensi untuk menjadi pihak yang terancam walaupun punya motivasi yang baik. Terdapat banyak pengorbanan yang harus ditempuh untuk menjadi pihak ketiga. Memahami peran yang tepat untuk menjadi pihak ketiga dapat mengurangi pengorbanan yang sia-sia dan dampak yang merugikan banyak pihak
Apabila konflik telah selesai, banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada dirinya, mulai dari dikucilkan sampai menjadi pahlawan. Oleh karena itu dalam banyak kasus, kecendrungan hasrat kita untuk memperjuangkan suatu nilai atau suatu kebutuhan pada salah satu pihak sulit untuk dibendung, sehingga ikut serta menjadi salah satu pihak yang berkonflik adalah suatu pilihan mutlak.
Tapi jika semua merasa kepentingannya-lah yang paling penting, siapakah yang rela jadi nenek tua yang memberikan unta ke-18 untuk Indonesia?

References

The Eighteenth Camel. (n.d.). Retrieved from Metaphor and More: http://www.mjglass.ca/metaphor/eighteenthcamel.htm
Ury, W. (2000). The Third SIte: Why We Fight and How We Can Stop. New York: Penguin Books.
Ury, W. (2003, December). Third Siders. Retrieved from Beyond Intractability:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s