Sapiens: Sebijak Namanya

Saya yakin bahwa setiap dari kita pernah bertanya atau langsung memikirikan apa makna dari nama yang diberikan oleh orang tua. Saya sendiri tanpa perlu bertanya langsung diceritakan oleh orang tua mengenai arti dari nama saya. Ternyata berkaitan dengan kelahiran saya yang sebagai anak sulung sangat ditunggu-tunggu. Alhasil, momen ketika saya hadir merupakan bentuk dari terkabulnya doa orang tua. Mungkin bagi pembaca yang mengerti bahasa Arab bisa mencari padanan katanya.

Sebagian nama diberikan dengan makna tersendiri, namun tak jarang juga hanya menjadi pelengkap sebuah entitas. Namun yang pasti memberi nama merupakan suatu pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh kita, Homo sapiens.

Memberi nama secara sepihak kepada organisme lain, seperti semut, gajah, monyet, atau dalam berbagai bahasa yang lain. Tanpa peduli untuk mengkonfirmasi kepada semut, gajah, dan monyet apakah mereka bersedia untuk diberi nama ‘semut, gajah, monyet’, kita langsung bersepakat (setidaknya untuk bangsa-bangsa yang berbahasa sama untuk menamai seperti itu. Begitu juga untuk nama yang harus disepekati oleh semua bangsa (bangsa manusia tentunya), kita memberi nama dengan beragam rupa, bahkan lebih detil.  Semut misalnya, dengan melihat lebih dekat mengenai semut, kita akan mengetahui bahwa semut hanyalah suatu golongan besar yang terdiri dari golongan-golongan semut yang lebih ‘mirip’ antar sesamanya. Kita memberi nama semut yang secara umum ini sebagai keluarga Formicidae. Sampai sekarang, kita telah memberi nama kepada 12.500 lebih golongan-golongan kecil yang kita sebut sebagai spesies dalam keluarga Formicidae. Begitu juga dengan gajah dan monyet.

Lalu bagaimana dengan makhluk pemberi nama sendiri? Dengan sebutan apa makhluk ini menyebut dirinya? Selain dengan bahasa-bahasanya sendiri, seperti manusia, human, al-insaan, humain, dan padanan lainnya. Manusia juga mengklasifikasikan diri dalam tatanan besar biologis sebagai Homo sapiens.

Seperti semut, gajah, dan monyet, makhluk ini juga memiliki suatu golongan yang lebih besar yang walaupun bisa dikatakan mirip tapi memiliki perbedaan yang signifikan sehingga tidak bisa digabung dalam satu ‘spesies’ yang sama. Dengan naik satu tingkat di atas spesies, kita menemukan diri tidak berdiri sendiri sebagai Homo. Terdapat banyak anggota lain dalam genus ini, seperti Homo soloensis, Homo denisova, Homo neanderthalis. Sebagai pemberi nama, kita biasa menggunakan tempat kita menemukan keberadaan mereka sebagai nama. Manusia dari Lembah Solo, Manusia dari Gua Denisova, atau Manusia dari Lembah Neander. Selain itu kita juga biasa mengklasifikasikan dengan perawakan atau bentuk dari anggota tersebut, misalnya Homo erectus yang bermakna Manusia Tegak dan Homo ergaster yang bermakna Manusia Pekerja. Sebagai pemberi nama, kita dengan lancangnya memberi nama sendiri sebagai Homo sapiens, Manusia Bijaksana.

Kemana ‘saudara-saudara’ kita tadi? Mengapa hanya kita yang mampu memberi nama dari semua tatanan biologis yang besar, sekalipun oleh ‘saudara-saudara’ dekat tadi?

Mereka yang terlalu nyata dan berbeda

51zJS6PmxbL._SX333_BO1,204,203,200_Di dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankid, Yuval Noah Harari menjelaskan terdapat dua kemungkinan teori yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada ‘sauda-saudara dekat’ tadi, yakni Teori Perkawinan Silang dan Teori Pergantian. Pada Teori Perkawinan Silang dijelaskan bahwa Sapiens yang berasal dari Afrika Timur kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia yang telah dihuni oleh jenis ‘manusia-manusia’ lain. Misalnya ketika mencapai Timur Tengah dan Eropa yang telah dihuni oleh Neanderthal yang lebih kuat dibanding Sapiens. Dua Spesies ini saling berbaur dan membentuk suatu populasi baru dari generasi ke generasi. Teori ini sempat diperkuat dengan penemuan di 2010 bahwa 1 sampai 4 persen DNA unik manusia-manusai di Timur Tengah dan Eropa adalah DNA Nenaderthal. Begitu juga hubungan antara DNA manusia Melanesia dan Aborigin yang berbagi 6 persen DNA dengan Denisova. Angka yang begitu kecil memang, namun tetap memberikan peluang.

Tanpa mesti menjelaskan lebih dalam, saya merasa pembaca akan langsung antipati terhadap teori pertama dan ingin langsung meng-iya-kan teori kedua.

Teori Pergantian secara sederhana menceritakan bahwa ‘saudara-sudara kita’ yang lain tadi telah mengalami ketidak-cocokan, perubahan, atau bahkan menjadi korban genosida yang dilakukan oleh Sapiens. Terori ini cukup mengerikan, namun jika pembaca setuju dengan pernyataan di paragraf sebelum ini maka kita telah melakukan tes sederhana yang menjelaskan kenapa teori kedua lebih mendekati realita. Secara naluriah, bagaimana mungkin kita dapat membayangkan suatu masa ketika kita saling berbagi makanan dengan ‘saudara-sudara kita’ tadi, apalagi berbagi hal lainnya yang lebih berharga.

Mereka terlalu nyata untuk diabaikan, tetapi terlalu berbeda untuk ditoleransi.
– Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind.

Bahkan tanpa perlu kembali ke masa lalu, kita dapat dengan mudah melihat bagaimana manusia modern sangat sering dihadapkan mengenai masalah perbedaan warna kulit, dialek, ataupun identitas lainnya, apalagi berbeda secara fisik dan koginitif. Sangat sulit untuk dibayangkan ketika kita dihadapkan dengan mereka yang berbeda tetapi memiliki kebutuhan yang sama. Dengan kemampuan otak yang jauh lebih baik, Sapiens dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada sehingga ‘saudara-saudara kita’ yang lain tersisihkan dari sejarah atau Sapiens dengan sengaja melakukan pemusnahan kepada mereka.

Bayangkan saja, seandainya Neanderthal yang bertubuh lebih besar ataupun Homo floresiensis yang memiliki tinggi maksimum satu meter masih hadir di antara kita, berkumpul di sudut-sudut jalan atau di tepi sungai. Mereka tidak begitu berbeda seperti berbedanya kita terhadap semut, gajah, dan monyet, tetapi juga tidak semirip antara saya, pembaca, atau John Cena. Jika mereka masih ada, apa yang akan kita lakukan?

Bergosip

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang benar-benar membedakan Sapiens dengan mahkluk lainnya, sekalipun dengan ‘saudara-saudara’ kita hingga sekarang mampu mengubah dunia. Terdapat tiga pembagian fenomena penting dalam sejarah peradaban manusia yang saling linear, yakni: Revolusi Kognitif, Revolusi Agrikultur, dan Revolusi Saintifik. Ketiga revolusi peradaban manusia ini membutuhkan terjadinya revolusi sebelumnya agar dapat terjadi. Revolusi Saintifik membutuhkan Sapiens-sapiens yang telah terdomistikasi oleh gandum dan ternak (ini adalah pembahasan yang menarik sebagai kebalikan dari pernyataan ‘manusia yang mendomistikasi . . .’), begitu juga Revolusi Agrikultur membutuhkan manusia yang mampu mengorganisirkan hasil panen nantinya.

Awal dari semua ini adalah mutasi dari genetik yang mengubah penyambungan sel-sel otak, kita menyebutnya Mutasi Pohon Pengetahuan. Ini hanya satu dari banyak teori yang menjelaskan alasan dari hal pembeda penting Sapiens dan makhluk lainnya. Atas alasan apapun itu, menyebabkan Sapiens dapat berpikir dan berkomunikasi  dengan cara yang berbeda. Bahasa tidak hanya dimiliki Sapiens, jauh sebelum kehadirannya, binatang-binatang telah memiliki semacam bahasa untuk berkomunikasi. Lumba-lumba dan kebanyakan serangga memiliki sistem komunikasi yang canggih bahkan lama sekali hingga manusia memanfaatkan radio.

Biasanya binatang-binatang memiliki simbol vokal tersendiri untuk menandakan sesuatu. Misalnya monyet. Dalam suatu penelitian, berhasil mengidentifikasi maksud dari beberapa seruan monyet. Misalnya dengan mendengarkan rekaman suatu seruan, kumpulan monyet-monyet serentak mendongak ke atas, kira-kira mungkin maksudnya adalah hati-hati ada elang. Begitu juga dengan seruan yang berbeda, mereka tiba-tiba langsung naik ke atas pohon, mungkin maksudnya adalah hati-hati ada singa.

Bedanya dengan manusia, monyet dan binatang lain hanya dapat memberikan informasi dengan batas tertentu saja sedangkan Sapiens dapat mengungkapkan dengan lebih luwes. Kita tidak hanyak mengungkapkan hati-hati ada singa saja, namun juga memberikan detil lokasinya, apa yang sedang dilakukan singa, kondisi lingkungan bagaimana. Bahkan kita dapat mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan, tidak hanya memanjat pohon.

gossip-pop-art-men

source: Oxford Dictionary Blog

Namun ada alternatif lain, yakni anugerah ini memungkinkan manusia untuk berbagi tentang dunia. Walaupun informasi mengenai singa adalah hal penting, namun ada yang lebih menarik dan juga lebih penting, yakni informasi tentang manusia itu sendiri. Bahasa kita berevolusi menjadi cara bergosip. Evolusi besar-besaran manusialah yang menyebabkan kemampuan dari bergosip ini, kemampuan membincangkan siapa yang dibenci, siapa yang penipu, siapa yang jujur, atau perbincangan-perbincangan menarik lainnya tentang manusia. Kemampuan ini berkembang menjadi upaya untuk memberikan informasi secara diam-diam kemudian memungkinkan suatu kelompok kecil dapat menjadi lebih besar. Karena bahasanya yang unik ini dan kecenderungan untuk bergosip, membuat manusia mampu mengorganisir suatu kelompok yang tidak lagi kecil dengan aturan yang lebih ketat.

Gosip muncul pada kita begitu alamiah sehingga tampak seakan-akan bahasa kita berevolusi untuk ini.
– Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind.

Banana on heaven

Setelah mampu membincangkan singa, kemudian mampu membincangkan manusia sendiri, ada hal yang lebih unik pada kemampuan linguistik manusia, yakni kemampuan membincangkan yang tidak tampak. Informasi bahwa ada singa di dekat sungai kini berubah menjadi ‘Singa adalah penjaga arwah suku kita’. Hal ini merupakan cikal bakal munculnya kepercayaan-kepercayaan kuno. Sebagai penulis artikel ini, saya membahas bagian ini dengan batasan ‘sesuatu yang tidak tampak’, menurut saya ini penting untuk dipahami.

Kemampuan membicarakan yang tidak tampak jauh lebih efektif mendatangkan kelompok besar dibandingkan kemampuan bergosip. Ini adalah salah satu keuntungan signifikan dari fiksi. Banyak kerja sama manusia dalam skala besar yang berasal dari kemampuan membicarakan dan mengimajinasikan seuatu yang sama. Hal ini tidak terbatas pada hal-hal religius saja, namun juga berkembang seperti pada rasa nasionalis, visi perusahaan, ataupun cita-cita pribadi. Semuanya merupakan hal yang tidak tampak dan kita berkumpul saling bekerja sama karenanya. Kemampuan ini adalah anugerah yang benar-benar membedakan kita dengan semut, gajah, ataupun monyet.

Pemimpin monnyet tidak dapat mengatakan (sekalipun kita dapat berkomunikasi nantinya) kepada monyet bahwa apabila ia bekerja lebih keras untuk kelompoknya, ia akan mendapatkan pisang di suatu hari kelak. Jika ini benar-benar terjadi mungkin penguasa dari bumi ini memiliki alternatif lain selain manusia.

***

Saat ini, penulis seharusnya berada di salah satu dari dua agenda Team Building Training dari dua organisasi berbeda. Tidak perlu rasanya membeberkan alasannya kenapa. Namun yang menarik adalah Team Building Training adalah contoh kecil dari efek Revolusi Kognitif manuisa, yakni mampu mengimajinasikan visi dari organisasi, sehingga dirasa perlu dilakukan semacam internalisasi dalam bentuk kegiatan Team Building Training.

Manusia bukanlah yang makhluk yang terbesar saat ini. Ada gajah yang lebih besar dari manusia. Namun mereka tidak mampu melakukan hal-hal luarbiasa yang luwes. Manusia juga tidak tidak sendiri sebagai makhluk yang bekerja sama dalam jumlah cukup besar, sebut saja semut yang sering kita temukan sehari-hari. Namun sayangnya bentuk kerja samanya sangat kaku.  Monyet juga bekerja sama, namun sayangnya hanya dalam skala kecil. Manusia dengan kemampuan otaknya untuk berimajinasi serta bahasanya, mampu bekerja sama dalam skala sangat besar dan sangat fleksibel. Bagaimanapun, kita tidak akan menukan Team Building Training ala semut, gajah, ataupun monyet. Itulah alasan kenapa manusialah yang memiliki kesempatan untuk memberi nama semut, gajah, dan monyet, termasuk menamai dirinya sebagai Manusia Bijaksana.

Referensi:
Artikel ini merupakan review singkat dari buku Sapiens: A Brief History of Humankind oleh Yuval Noah Harari. Buku yang sangat menarik sehingga saya dan Barrack Obama rekomendasikan untuk dibaca. Saya berharap bisa menuliskan review dari bagian lain buku ini di lain kesempatan. Karena seperti judulnya, buku ini berusaha menceritakan manusia secara singkat namun dengan beberapa sudut pandang yang berbeda. Sangat menarik.

 

10 thoughts on “Sapiens: Sebijak Namanya

  1. Pemimpin monyet tidak dapat mengatakan (sekalipun kita dapat berkomunikasi nantinya) kepada monyet bahwa apabila ia bekerja lebih keras untuk kelompoknya, ia akan mendapatkan pisang di suatu hari kelak.
    Sapiens dapat mengungkapkan dengan lebih luwes.
    pendapat ini dibuat oleh Sapiens dan ‘luwes’nya adalah versi Sapiens juga.

    Liked by 1 person

  2. Walau mungkin bukan gagasan utama, tapi dari tulisan ini saya menangkap bhw manusia memang spesies paling sempurna dengan segala kekurangannya. Ehehe, lanjutkan bal

    Liked by 1 person

  3. Pingback: Sapiens: Satu Revolusi yang Dicurangi | Caliban Journal

  4. Pingback: Homo Deus: dari Gandum ke Data (1) | Caliban Journal

  5. Pingback: Refleksi Intoleransi | Caliban Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s