Sapiens: Satu Revolusi yang Dicurangi

Kita pada umumnya mengetahui bahwa Revolusi Agrikultur terjadi pada Homo sapiens sekitar 10.000 tahun lalu yang ditandai dengan peralihan dari kebiasaan mengumpulkan tumbuhan dan memburu binatang menuju era bertani dan berternak. Dari sudut pandang manapun, kita dapat dengan mudah setuju bahwa peralihan ini merupakan titik penting dalam sejarah peradaban manusia. Namun, apakah peralihan ini benar-benar merupakan cerita yang baik bagi Homo sapiens?

Kegiatan berburu dan mengumpulkan buah-buahan telah dilakukan oleh manusia dari generasi ke generasi untuk melanjutkan hidup. Dengan rentang waktu yang sangat panjang ini mempengaruhi kualitas fisik dari manusia yang menjadi kuat dan tangguh karena harus berhadapan dengan kecepatan hewan-hewan buruan atau harus memanjat pohon yang tinggi dan mencari jamur-jamur berkualitas. Proses sebelum menikmati santapan pun bahkan telah memberikan manfaat yang signifikan bagi kehiudpan manusia, hal ini belum termasuk nutrisi yang terdapat pada hewan-hewan buruan atau tumbuh-tumbuhan liar. Hewan dan tumbuhan ini, hidup dan berkembang tanpa adanya intervensi dari manusia, bersaing secara bebas dalam tatanan kehidupan yang tak kalah kompleks.

1024px-Maler_der_Grabkammer_des_Sennudem_001

Lukisan dari kuburan Mesir | Sumber: https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=154346

Kondisi ini berubah pada sekitar 9500-8500 SM. Manusia mulai mampu melakukan manipulasi terhadap calon makanannya, sehingga terdapat beberapa tumbuhan dan hewan yang hidup dan berkembang tergantung bagaimana keinginan manusia. Kita biasa menyebutnya sebagai proses “domestikasi”, berasal dari kata domus yang dalam bahasa Latin berarti “rumah”. Beberapa di antaranya adalah gandum dan kambing yang didomestikasi kira-kira 9000 SM, kacang polong dan kacang-kacangan pada 8000 SM, pohon zaitun pada 5000 SM, dan lain-lain. Proses domestikasi ini berlangsung secara mandiri di berbagai belahan dunia; Amerika Selatan, Timur Tengah, Meksiko, Levant, Cina, dan beberapa tempat lainnya. Dari tempat-tempat ini kemudian menyebar lebih luas sehingga menjadikan dunia pada abad ke-1 didominasi oleh manusia agrikulturalis.

Tidak semua hewan dan tumbuhan yang sebelumnya jadi primadona pemburu-penjelajah dapat didomestikasi. Beberapa tumbuhan terlalu sulit dicari, beberapa hewan terlalu menakutkan, dan banyak juga yang belum diketahui cara memanipulasinya. Tersedia sedikit dari total asupan sebelumnya yang cocok untuk dijadikan bahan pertanian dan ternak. Gandum, kambing, serta tumbuhan dan hewan yang cocok itu pada awalnya hanya berjumlah sedikit dan hanya berada di tempat tertentu saja. Di tempat-tempat inilah yang kelak menjadi pusat-pusat perkembangan agrikultur.

Menjadi petani dan peternak tidak seindah seperti yang dibayangkan sekilas oleh kita. Proses transisi ini mengorbankan banyak aspek yang sebelumnya secara kumulatif telah dicapai manusia. Selain itu, apabila kita melihat dengan sudut pandang untung-untungan antara dua spesies (manusia dan hewan ternak / tumbuhan yang ditanikan), tenyata tidak begitu banyak memberikan keuntungan, bahkan merugikan.

Menuju zona nyaman yang fana

Pada era sekarang, banyak sekali motivator yang memberikan kata-kata bijak seperti “tinggalkan zona nyaman-mu” dan yang sejenis. Jika kita meneropong sejarah peradaban manusia, momen ketika manusia secara global menjerumuskan diri ke zona nyaman adalah saat Revolusi Agrikultur, setidaknya untuk sesaat.

Menjadi pemburu-penjelajah memberikan manusia kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuannya baik secara fisik maupun mental dengan berhadapan dengan proses mendapatkan makanan yang melelahkan, berbahaya, dan tak jarang harus menjadikan nyawa sebagai taruhan. Namun ini bukanlah penilaian yang mendalam.

Menjadi petani berarti mengaitkan kehidupan tumbuhan dan hewan dengan kehidupan petani-petani tersebut. Hal ini menyebabkan mereka mesti mengerahkan segala upaya agar gandum yang ia miliki mendapatkan kondisi ideal agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Maka dilakukanlah penjagaan tiada henti agar gandum tidak diserang hama, penggarapan lahan, membuat sistem perairan, dan kegiatan-kegiatan lain yang memuaskan kebutuhan gandum.

Gandum yang kelaparan bahkan mendorong manusia mengumpulkan kotoran binatang untuk menyuburkan tanah yang menjadi tempat tumbuh gandum

Kegiatan-kegiatan ini dapat dilihat tidak jauh lebih ringan dibandingkan aktivitas selama masih sebagai pemburu-penjelajah, bahkan jauh lebih berat dan menyita waktu. Walaupun menjanjikan hasil yang relatif lebih banyak daripada berburu, namun resiko kegagalan total tetap ada. Untuk mengurangi resiko tersebut maka manusia mesti melakukan usaha lebih keras dalam memenuhi kebutuhan gandum.

Mati untuk gandum

Dampak langsung dari melimpahnya cadangan makanan bagi manusia adalah ledakan populasi yang terjadi beberapa saat setelah masa Revolusi Agrikultur. Petani dan peternak yang sekarang sudah dalam jumlah lebih besar menetap di tempat-tempat mereka melakukan aktifitas agrikulturnya. Desa kecil di sekitar oase Jericho di Palestina yang terdiri dari sekitar 100 orang pengembara pada 13.000 SM, menjadi suatu desa yang besar dan mampu menopang 1.000 orang pada 8500 SM. Kumpulan yang besar ini memberikan harapan hidupnya pada cadangan makanannya di lahan-lahan gandum.

Apabila sekumpulan pemburu-penjelajah menempati suatu area, kemudian datang sekumpulan lain yang lebih kuat ingin menguasai area tersebut, pilihan yang dapat dilakukan oleh tuan rumah adalah melawan atau meninggalkan area tersebut. Jika dihitung-hitung, meninggalkan area merupakan pilihan yang lebih layak tanpa kerugian yang berarti.

Berbeda ceritanya pada masa setelah Revolusi Agrikultur. Pada kasus yang sama, meninggalkan area berarti memberikan hadiah kepada penjajah berupa lahan dan lumbung gandum. Mengingat jumlah individu dalam kawanan yang kini tidak lagi sedikit, ini juga berarti mengancam diri sendiri dengan kelaparan dan kekurangan gizi. Pola pikir ini menjadikan tuan rumah mesti bertarung hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan lahan dan lumbung gandumnya. Lebih baik mati daripada melanjutkan hidup dengan ancaman kelaparan dan kekurangan gizi.

Sudut pandang lain

Berbicara Revolusi Agrikultur bukan hanya tentang Homo sapiens, kita mesti melihat fenomena ini dari sudut pandang organisme lain yang juga terlibat. Secara umum dapat terbagi dua, yakni tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pembagian ini penting karena ada beberapa aspek yang perlu diberikan perhatian lebih pada salah satunya. Kita akan membahasnya nanti.

Gandum, padi, dan biji-bijian lain pada awalnya bukanlah tumbuhan yang penting dalam skala kehidupan di bumi, hanyalah satu jenis rumput liar yang bersaing dengan penghuni bumi lainnya. Jumlahnya pun tak terbilang signifikan,  hanya tumbuh di area kecil sekitar Timur Tengah. Dalam beberapa milenium, gandum kini menutupi 2,25 juta kilometer persegi dari permukaan bumi, kira-kira sepuluh kali luas Inggris.

Jika kita membaca buku-buku tentang evolusi, mata uang yang paling adil untuk melihat keuntungan dari suatu organisme adalah salinan DNA dari spesies tersebut. Makin banyak salinan DNA maka bisa dikatakan spesies tersebut makin sukses. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit salinan DNA berarti spesies tersebut menuju kepunahan. Pada kasus ini gandum telah mengalami suatu kesuksesan yang besar, paling besar diantara tumbuhan.

Sukses gandum ini tidak lain karena kemampuannya dalam memanipulasi manusia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia bahkan rela mengumpulkan kotoran hewan untuk menyuburkan tanah yang ditempati gandum. Perubahan dari manusia penjelajah menjadi penetap juga tak lain ulah dari spesies ini yang menikmati keuntungannya. Oleh karena itu, kita patut bertanya, apakah benar-benar kita yang ‘mendomestikasi’ gandum?

Kesuksesan yang tak bermakna

Dari perspektif gandum dan tumbuhan lain yang telah mampu memanipulasi Sapiens sehingga memiliiki salinan DNA yang makin banyak, itu bisa dikatakan kesuksesan yang besar. Namun untuk hewan seperti domba, sapi, ayam, dan ternak lainnya merupakan urusan yang berbeda.

Dengan mata uang salinan DNA, hewan-hewan ternak ini tentu mendapatkan keuntungan dari Revolusi Agrikultur, pun juga persebarannya. Dari jumlah yang hanya beberapa juta dari masing-masingnya, kini telah ada 1 miliar domba di bumi, 1 miliar sapi, dan yang paling sukses adalah ayam dengan jumlah mencapai 25 miliar. Revolusi Agrikultur terlihat sebagai anugrah yang patut disyukuri oleh sapi, domba, dan ayam, seperti pada gandum.

-var-www-html-newkbr.id-layouts-uploads-thumb-Ilustrasi peternakan ayam - Foto bpm-dot-jatimprov-dot-go-dot-id_810x450

sumber: bpm.jatimprov.go.id

Namun ada perbedaan disini, gandum tidak akan merasa lebih bahagia sekalipun manusia merawatnya siang-malam tanpa henti, begitu juga tidak akan merasakan penderitaan jika diberikan perlakuan tertentu. Dengan mengukur hanya menggunakan mata uang salinan DNA itu sudah cukup untuk menyatakan betapa Revolusi Agrikultur merupakan sarana kesuksesan spesiesnya. Tidak dengan sapi, domba, dan ayam. Mata uang salinan DNA belum cukup untuk mengukur kesuksesannya, kebahagiaan dan penderitaannya mesti tak boleh luput dari perhitungan.

Kita mulai dari acuan rentang hidup. Contohnya ayam liar yang memiliki rentang hidup 7 sampai 12 tahun dan sapi liar dari 20 tahun hingga 25 tahun. Walaupun dapat mati lebih awal, namun kans untuk hidup lebih lama juga tak kalah besar. Itu hanya urusan masing-masing individu dalam mempertahankan dirinya (dan evolusi tentunya mengarah pada yang paling sesuai). Hikayat hidup mereka berubah sejak manusia telah mampu mengintervensi kehidupannya dengan menjadikannya hewan ternak, dipungut dari alam liar. Masa hidupnya tergantung pada kapan ia memiliki massa maksimal. Jika ia tidak berkepentingan dalam proses reproduksi dan menyusui, maka tempat jagal adalah tempat yang lebih layak untuk hewan-hewan ini tanpa harus menunggu belasan atau puluhan tahun.

Selain untuk langsung menjadi bahan santapan, hewan-hewan juga mampu dimanfaatkan untuk keperluan lain Homo sapiens, seperti untuk penggarapan sawah dan jasa transportasi. Hewan-hewan seperti kuda, onta, dan juga kerbau ini dipisahkan dari tatanan sosial asalnya untuk menjadi seperti yang diinginkan manusia. Banyak metode yang dilakukan manusia dalam upaya memodifikasi spesies-spesies ini, beberapa di antaranya terbilang kejam. Melatih dengan cabuk, mengibiri, atau melakukan manipulasi hubungan dengan hewan lain. Tak jarang juga seleksi ini terjadi terus menerus dan menyebabkan artificial evolution.

Kesuksesan domba, sapi, dan ayam dalam mata uang salinan DNA harus dibayar mahal, bahkan menjadikannya tidak bermakna.

***

Revolusi Agrikultur jika dilihat dengan kaca mata masa kini hanya akan memberikan kesan positif bagi kita, Homo sapiens. Akan berbeda jika kita kembali di saat fenomena ini dimulai. Penurunan drastis nutrisi yang didapat dari hasil berburu dan mengumpulkan menuju sumber-sumber terbatas dari ternak dan tani banyak menyebabkan kasus malnutrisi. Juga apabila terjadi kegagalan dalam pertanian ataupun akibat serangan dari pihak lain yang lebih kuat. Keuntungan pada masa kini tidak dapat langsung dikaitkan sebagai keuntungan saat itu. Karena tidak ada jaminan bagi manusia-manusia peralihan tersebut bahwa dengan mengorbankan mereka dan populasinya saat itu akan memberikan masa depan yang lebih cerah bagi kehidupan manusia.

Revolusi Agrikultur adalah titik penting dalam sejarah hubungan manusia dan organisme lain. Dalam beberapa sudut pandang, kita tidak lebih untung dari pada spesies lain. Dalam sudut pandang lain kita begitu kejam dalam mengambil keuntungan dari spesies lain. Securang apapun Revolusi Agrikultur, ia tetap merupakan pengokohan posisi Homo sapiens dalam tatanan besar kehidupan di bumi.

 

nb:
Artikel ini adalah seri kedua saya angkat dari ide yang disampaikan dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind oleh Yuval Noah Harari. Seri pertama artikel ini dapat dilihat disini: Sapiens: Sebijak Namanya. Buku yang sangat menarik sehingga saya dan Barrack Obama rekomendasikan untuk dibaca.

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berlangganan blog ini dengan klik tombol follow.

5 thoughts on “Sapiens: Satu Revolusi yang Dicurangi

    • Wah belum sampai sedetil GMO sih shaf, mungkin nanti kalau bahas Selfish Gene bakal lebih pas.
      Salinan DNA, atau perseberan gen di lumbung, apa lagi ya biasanya istilahnya. Cuma di buku ini pake ungkapan itu sih. Bisa bagi2 tuh gimana gene editing

      Like

  1. Pingback: Homo Deus: dari Gandum ke Data (1) | Caliban Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s