The Selfish Gene: Replikator yang Menjadi Tirani

cendrawasih

Foto Cendrawasih oleh Handry Tamin (pixoto.com)

Kenapa seekor induk ayam rela mengorbankan dirinya untuk melawan pemangsa yang mengincar anak-anaknya? Apa yang menyebabkan cendrawasih jantan pada umumnya memiliki bulu ekor yang panjang dan menawan? Bagaimana proses terbentuknya organisasi yang rapih pada koloni semut dan serangga sosial lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini pada pra-Darwin biasa dijawab dengan argumen-argumen filosofis dan normatif, seperti mereka hadir begitu saja tanpa ada proses dibaliknya. Namun setelah Darwin mencetuskan teori seleksi alam-nya, kita mulai beralih pada jawaban-jawaban yang lebih teknis, melalui sudut pandang evolusi. Namun timbul pertanyaan terhadap sudut pandang evolusi ini, sampai batas manakah kita dapat mengambil makna ‘individu’ yang berinteraksi. Pertanyaan ini hadir dengan melibatkan dimensi waktu dalam pengamatan kita, bahwa organisme yang terdiri dari sel-sel dan dispesifikasi sebagai suatu spesies tertentu ini tidak ‘hadir’ dalam waktu yang lama. Kita akan kesulitan mengatakan bahwa aktor utama dari proses seleksi alam ini adalah individu-individu tersebut, mereka begitu fana.

Kita membutuhkan entitas yang lebih lama ‘hadir’ dalam drama besar alam semesta ini. Mereduksi teori seleksi alam merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan meng-ekspansikannya. Maksudnya adalah dengan memandang seleksi alam ke suatu entitas yang lebih besar dari organisme, misalnya ke populasi atau komunitas bahkan bioma, itu tidak akan menjawab pertanyaan karena begitu kompleks. Walaupun untuk beberapa konteks kita bisa menggunakan sudut pandang populasi, namun tidak untuk generalisir. Maka mereduksinya hingga taraf paling kecil yang paling mampu bertahan dan dapat dijadikan tokoh utama adalah pilihan yang tepat, kita akan berbicara dalam sudut pandang sang replikator; gen.

Mesin Kelestarian

 

Kita akan kembali pada masa jauh sebelum adanya ayam, cendrawasih, dan semut. Replikator adalah suatu molekul yang mampu mereplikasi dirinya sendiri. Dibutuhkan hanya satu kehadiran replikator untuk menghasilkan kehidupan yang lebih kompleks, tanpa kita harus mendefinisikan arti ‘kehidupan’ saat itu. Replikator ini kemudian membentuk koloni-koloni dan membuatkan dirinya suatu alat yang menjamin kelangsungan keberedaannya. Alat ini disebut sebagai mesin kelestarian yang mana para replikator ini berada di dalamnya, mesin kelestarian itu adalah organisme-organisme purba dan juga organisme-organisme yang muncul belakangan. Mereka membentuk semacam estafet dalam menjaga ‘tuan’nya, sang replikator tadi.

Mungkin agak keberatan bagi kita, organisme modern dan berakal-budi untuk menerima bahwa perjalanan panjang kita tidak berarti apa-apa dengan perjalanan panjang sang replikator, terutama replikator-replikator yang mampu bertahan sedari awal. Kita mulai kesampingkan sejenak tujuan-tujuan keberadaan organisme berbagai spesies di dunia ini (yang mana biasanya manusialah yang mendefinisikan tujuan tersebut), kita mesti melihat apakah tujuan gen?

Dalam mereplikasi dirinya, terdapat satu ciri penting yang harus kita ketahui yakni replikasi tidaklah sempurna dan kesalahan akan terjadi. Kesalahan-kesalahan yang terakumulasi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya evolusi. Dari sudut pandang kita dan organisme yang muncul belakangan akan beranggapan bahwa kesalahan replikasi itu baik agar terjadi evolusi, ini karena kita merupakan produk dari evolusi dan merasakan kebaikan-kebaikanya. Namun dari sudut pandang gen, tidak ada yang ingin berevolusi. Evolusi adalah proses yang terjadi tanpa gen dapat mencegahnya.

Dengan menjabarkan terlebih dahulu bahwa pentingnya kesalahan replikasi, maka kita dapat dengan mudah memahami bahwa tujuan besar dari gen adalah memperbanyak diri dalam lumbung gen.  Organisme yang ditumpanginya mungkin akan segera mati, namun gen harus memastikan bahwa ia telah tereplikasi melalui proses perkawinan organismenya dengan organisme yang lain. Proses perkawinan ini merupakan proses mencampur-adukkan dan pengocokan gen dari masing-masing induk. Sekali lagi, organisme hanya sebagai tumpangan sementara dari gen.

Kelakuan Gen

Lalu apa itu gen egois? Secara singkat, gen egois merupakan konsep yang menyatakan upaya gen dalam membela kepentingan pribadinya untuk dapat bertahan hidup selama mungkin dan tersebar seluas mungkin. Bertahan hidup dengan mengupayakan mesin kelestarian yang seseuai mungkin dan tersebar melalui proses persalinan generasi ke generasi.

Perilaku gen egois ini dapat dilihat melalui banyak kasus, bahkan pada seluruh kasus interaksi antar organisme. Dalam buku The Selfish Gene (Richard Dawkins) setidaknya ada enam pembagian interaksi untuk menjelaskan fenomena gen egois, jika saya tidak salah menafsirkan, yakni;

  1. Agresi antar pemangsa dan yang dimangsa, disini dijelaskan menggunakan pendekatan evolutionarily stable strategy (ESS). Pada kasus ini menurut saya masih sangat ‘individu’, belum mencapai taraf gen, namun tetap impikasinya adalah besar persebaran gen dalam lumbung gen.
  2. Perhitungan derajat kekerabatan antar individu menggunakan Metode Hamilton. Dengan mengetahui derajat kekerabatan antara kita terhadap individu lainnya, maka kita akan tahu seberapa ‘berharga’nya individu tersebut karena porsi gen unik yang ia dan kita miliki bersama. Perhitungan ini sangat menarik dan cukup fundamental dalam pembahasan kasus-kasus berikutnya, terutama terkait individu yang berkerabat.
  3. Pengoptimalan angka kelahiran melalui proses semacan keluarga berencana dalam suatu populasi. Disini terdapat kalkulasi sederhana untuk menetukan batas yang sesuai jumlah anak masing-masing induk. Dengan semakin banyaknya anak, kemampuan induk untuk memastikan kelangsungan hidup anak tersebut semakin kecil yang mana juga berarti kelangsungan hidup gen yang diturunkan pada anak tersebut juga berkurang. Begitu juga apabila terlalu sedikit akan menyebabkan semakin minoritas gennya dalam lumbung gen.
  4. great-egret-family-nest-ng-01

    Burung Kuntul ‘Great White Egrette’ (http://duncannonatc.org)

    Hubungan antara induk dan anak dalam pemenuhan kebutuhan. Jika kita memahami bagian ke-2, maka kita akan mengetahui setiap induk berkerabat setara dengan seluruh anaknya. Dengan sudut pandang gen, harusnya tidak ada ‘anak emas’ dalam keluarga tersebut. Akan tetapi terdapat faktor-faktor yang menyebabkan pembagian secara adil sulit dicapai dan adanya kemungkinan anak untuk berlaku ‘tidak jujur’ atau ‘curang’.

  5. Pertarungan antar jenis kelamin. Di awali dengan penjabaran mengenai sifat kejatanan (maleness) dan kebetinaan (femaleness) kemudian dilanjutkan dengan taktik-taktik umum yang mungkin terjadi antar dua individu dalam mengeksploitasi investasi pada anaknya. Taktik-taktik ini mungkin bagi kita manusia terasa tidak mengenakkan, namun untuk spesies lain itu mungkin saja terjadi, misalnya mulai dari berkopulasi sebanyak mungkin oleh jantan hingga bersetia dalam pemberian makan anak sampai jangka waktu tertentu. Masing-masing taktik memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing yang bisa ditelaah secara sudut pandang gen masing-masing induk.
  6. Simbiosis dua spesies berbeda, pembahasan mengenai kasus ini diberi judul bab ‘You scratch my back, I’ll ride on yours‘ (atau dalam edisi terjemahan Kamu Garuk Punggungku, Aku Garuk Punggungmu). Kasus ini hadir untuk menantang bagaimana gen egois dapat menjelaskan perilaku saling altruis antar spesies dengan adanya penundaan dalam membalas kebaikan. Bagian yang menarik dari bab ini adalah simulasi dengan prisoner’s dillema untuk membandingkan strategi-strategi yang mungkin dilakukan antar dua spesies.

Saya tidak akan menjabarkannya secara mendetail satu-satu dalam tulisan ini karena butuh penjelasan yang rinci sehingga teori gen egois dapat diterima. Di atas saya telah meringkasnya dalam beberapa kalimat sebagai bahan diskusi pembaca dikemudian waktu (saya sangat mengharapkan adanya diskusi yang lebih lanjut).

Dari kasus-kasus di atas akan timbul masalah, yakni bagaimana menempatkan gen atau individu sebagai entitas fundamental. Seperti penjelasan di awal, gen atau replikator merupakan tokoh yangtelah menempati individu ke individu, generasi ke generasi, sehingga melemahkan posisi individu yang hanya sebagai mesin kelestarian. Sedangkan jika kita melihat enam kasus diatas, pada umumnya hanyalah seperti upaya individu dalam memperhitungkan untung-ruginya tindakan yang diambil terhadap jumlah gen yang terlestarikan. Namun dalam penilaian kekerabatan, gen benar-benar mengambil alih peran individu.

Jika kita bersikukuh gen adalah aktor utama, maka sampai sejauh mana kekuasaan gen terhadap kehidupan?

Batas Kekuasaan Gen

Seleksi alam tidak menyeleksi gen secara langsung, sekalipun gen tersebut diekstrak dari mesin kelestariannya, seluruh gen tampak sama. Yang membedakan gen adalah efek yang dihasilkan terhadap individu yang ditempatinya selama proses perkembangan embrio. Efek ini mempengaruhi bentuk tubuh dan juga perilaku. Efek gen yang berupa jasmaniah disebut sebagai fenotipe, seperti misalnya mata hijau, rambut keriting, atau sekaligus keduanya. Namun definisi efek fenotipik yang biasanya terbatasi hanya sampai pada tumbuh tempat gen itu tinggal perlu dipertanyakan, efek ini dapat meluas hingga pada benda mati sekitarnya, makhluk hidup lain, dan segala efek yang terjadi di dunia.

 

Caddisfly-Larva_2

Rumah larva caddisfly/lalat haji sebegai efek fenotipe yang lebih luas (http://www.islsohio.org)

Contoh perluasan efek fenotipik gen yang mempengaruhi benda mati adalah rumah larva lalat haji di atas. Awalnya saat membaca buku saya tidak begitu terpesona dengan penjabaran Dawkins karena tidak disertai gambaran seperti rumah lalat haji tersebut, akan tetapi  saat menulis artikel ini dan mencari seperti apa rumah larva ini baru saya merasa tergugah. Larva dari Caddisfly membentuk rumahnya dengan ‘semen’nya sendiri lalu memilah-milah batu kecil yang sesuai lalu menempelkannya satu sama lain. Rumah yang bisa dibawa kemana-mana ini berbeda dengan rumah siput atau kepiting yang hadir akibat pertumbuhan alami tubuhnya. Rumah ini adalah contoh manipulasi yang dilakukan gen terhadap benda mati untuk kepentingan kelangsungan hidupnya.

Sedangkan untuk efek fenotipik yang terjadi pada makhluk hidup lainnya (‘lainnya’ disini maksudnya adalah makhluk hidup yang tidak ditempati gen tersebut) banyak ditemui pada hubungi parasit dan inangnya. Contohnya adalah konflik kepentingan antara gen siput dan gen cacing parasitnya yang mempengaruhi sel sekresi pembentukan cangkang siput. Perluasan dari efek fenotipik ini menghasilkan siklus kehidupan tertentu yang perlu digaris bawahi adalah karena kepentingan gen. Efek fenotipik telah hadir di tiap kehidupan di dunia.

Dan pada akhirnya

Memahami fenotipe yang tidak terbatasi pada tubuh tumpangan gen, bahkan batasan luasnya sangat tidak jelas, membuat kita dapat berpikir bahwa fenomena sebab-akibat hanyalah penghubung gen-gen dengan efek fenotipiknya. Kehadiran individu benar-benar menjadi mesin kelestarian bagi gen dan bersifat begitu sementara. Bagaimana rupanya, bagaimana perilakunya, dan tindakan-tindakannya tak lain dalam upaya mencapai tujuan besar gen. Kalimat penutup buku ini saya tampilkan sebagai kesimpulan dari gen egois yang menurut saya disusun cukup bagus;

“But the individual body, so familiar to us on our planet, did not have to exist. The only kind of entity that has to exist in order for life to arise, anywhere in the universe, is the immortal replicator.”  – Richard Dawkins

Sampai disini kita bisa melihat gambaran besar dari gen egois. Pesonifikasi egois yang negatif perlu dilihat dengan kacamata bersih, moralitas ini tidak selalu sampai pada tingkat individu yang efeknya lebih mudah kita rasakan (karena buku ini bukan berjudul Individu Egois). Dalam konteks hewan, citra gen egois dapat dengan mudah ditransformasikan dalam naluriahnya, sekalipun mereka tidak melakukan perhitungan untung rugi genetis seperti pada enam kasus di atas.

Manusia memiliki kemampuan lebih di banding spesies lainnya untuk memperkirakan keuntungan tidak hanya pada jangka pendek, tetapi juga jangka panjang, kita memiliki imajinasi. Sekalipun benar adanya naluriah kita yang dihasilkan oleh gen egois, namun kita manusia dapat menentangnya melalui budaya** ataupun nilai-nilai yang kita ciptakan, menentang para replikator abadi.

 

 


* Terdapat satu bagian yang sebenarnya cukup penting namun saya lewatkan dalam artikel ini, yakni pembahasan mengenai Meme yang merupakan replikator baru, seperti bahasa, lagu, ide, dan pada umumnya adalah budaya. Meme ini disebut replikator karena mirip seperti gen dalam proses replikasinya dan aspek lainnya.


9780198788607

Artikel ini merupakan ringkasan dari buku The Selfish Gene karya Richard Dawkins yang diterbitkan pada tahun 1989. Pada masanya konsep ini dianggap kontroversial dalam penjelasan seleksi alam, namun kini buku ini tetap dipandang sebagai salah satu buku sains populer yang paling berpengaruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s