Loving Vincent: Harga sebuah Karya

Pernah Anda melihat lukisan ini? Jika Anda menyukainya, baik baru saja ataupun sudah dalam waktu yang lama, entah dengan berbagai paramater dan pertimbangan tertentu ataupun menyukainya tanpa ada alasan sama sekali, maka Anda akan menikmati lukisan yang hampir serupa (satu aliran) dengan lukisan ‘Starry Night’ tersebut selama satu jam 30 menit, di Loving Vincent.

‘Starry Night’ mungkin adalah satu-satunya lukisan mainstream dan populer yang bisa menghibur saya, tanpa alasan, sepertinya. Mungkin karena gairah yang didapat saat melihatnya, atau mungkin karena sensasi aneh yang didapat jika memandangnya dalam waktu sedikit lama. Apapun itu, ‘Starry Night’ sempat menjadi home picture media sosial LINE saya dalam waktu yang lama, begitu juga media sosial lain, agar mudah jika tiba-tiba saya ingin menatap lukisan itu, begitu juga teman-teman atau follower.

Mengenai perkara ini, kita sering menganggap bahwa apa yang kita tampilkan di media sosial adalah keinginan kita untuk menunjukkan identitas seperti apa yang ingin orang-orang pahami terhadap kita. Narsisme, menipu diri sendiri, bahkan berlaku munafik dengan menampilkan keindahan-keindahan dibalik ketidaknyamanan, atau mungkin sebaliknya, berharap dikasihani diatas segala anugrah. Menjadikan ‘Starry Night’ sebagai home picture juga bisa dikatakan seperti itu, selain mengatakan bahwa saya menyukai ini lukisan, juga menyatakan sesuatu yang lain terkait ‘pemalsuan identitas’ tadi. Tapi apa yang mau dipalsukan? Apakah pelukis juga melakukan hal yang sama terkait kehidupan dan karya-nya? Sebelumnya, semoga Vincent memaafkan telah menggunakan ‘Starry Night’ di media sosial saya.

Loving Vincent adalah film yang menceritakan usaha untuk mencari tahu penyebab kematian Vincent van Gogh, pelukis ‘Starry Night’, yang bunuh diri dan menyimpan misteri. Mulai untuk melukis pada 26 tahun dalam hanya 8 tahun saja ia telah mencapai masa jayanya sebagai pelukis. Seperti orang-orang yang juga meninggalkan sebuah mahakarya di luar imajianasi kebanyakan orang, hidupnya bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Diceritakan di film ini bahwa saat kecil walaupun ia telah berusaha semampu mungkin untuk menjadi anak yang baik bagi keluarganya, ia tetap menjadi orang asing, tetapi tidak bagi saudaranya, Theo van Gogh.

Wrote-Me

Armand Roulin dalam Loving Vincent (lovingvincent.com)

Pencarian fakta mengenai kematian Vincent dilakukan oleh anak seorang tukang pos, Armand Roulin, yang disuruh ayahnya untuk menyampaikan surat Vincent yang tertunda ke Theo. Armand kemudia mengetahui segera bahwa Theo telah meninggal 6 bulan sejak Vincent bunuh diri. Kemudian ia melakukan penyelidikan mendalam ke orang-orang sekitar Auvers (tempat kematian Vincent) dan membenturkan persepsi masing-masing mereka. Mulai dari Pere Tanguy, penyuplai alat lukis Vincent, lalu ke dr. Gachet yang merawat Vincent dalam masa-masa akhirnya, pemilik penginapannya, dan juga orang-orang lainnya. Yang menarik adalah tiap persepsi sangat bertolak belakang sehingga menimbulkan kebingungan mana yang lebih benar.

You want to know so much about his death, but what do you know of his life?
Marguerite Gachet

Dengan plot seperti ini kita akan merasa seperti menonton film detektif, namun tidak dengan ketelitian magis seperti Sherlock Holmes ataupun kasus mendekati tidak mungkinnya Agatha Crishtie. Jualan dari film ini adalah Vincent van Gogh itu sendiri, nama dan misterinya sudah terlalu besar untuk seorang detektif. Ditambah lagi film ini diceritakan dengan animasi cat minyak ala Vincent van Gogh, seperti ‘Starry Night’nya yang bergerak. Dengan 100 pelukis untuk 65.000 frames film ini adalah karya seni yang sangat bagus ditonton, terlebih jika Anda termasuk di kategori yang saya tanyakan di awal.

Melalui Loving Vincent kita akan dibawa seperti melihat ‘Starry Night’, akan muncul alasan-alasan untuk mengagumi sosok Vincent bahkan tanpa harus menyadari alasan-alasan itu sendiri. Tentunya bukan hanya ‘Starry Night’ saja karya besar Vincent, saya juga tidak begitu mengetahuinya, namun setidaknya kita memahami harga dari sebuah karya; kehidupan pelukis itu sendiri.

I want to touch people with my art. I want them to say ‘he feels deeply, he feels tenderly’.
– Vincent van Gogh

Tontonlah, lupakan sejenak superhero dan raja palsu-mu.

 

 


Loving Vincent adalah film animasi drama biografi tentang pelukis terkenal, VinMV5BMTU3NjE2NjgwN15BMl5BanBnXkFtZTgwNDYzMzEwMzI@._V1_UY268_CR0,0,182,268_AL_cent van Gogh terutama dalam beberapa saat kematiannya. Film ini merupakan film animasi pertama yang keseluruhannya dilukis dengan cat minyak. Film ditulis dan disutrdarai oleh Dorota Kobiela dan Hugh Weichman. Jika Anda tertarik lebih jauh, silahkan cek di lovingvincent.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s